Other Videos

Lima Kisah Air Melalui Fotografi

I Wayan Martino memotret kisah patung Dewa Wisnu, dewa perlambang kesuburan ini dengan cukup tragis. Ia dibuat dari bongkah-bongkah paras yang ditambang di sempadan sungai, sumber air yang harusnya dilestarikan.

Martino, anak muda pekerja di perusahaan eksportir kerajinan berlandaskan fair trade ini punya bekal pengetahuan yang cukup tentang produk. Salah satu prinsip perdagangan berkeadilan adalah asal bahan bakunya bisa ditelusuri. Misalnya kayu bukan dari illegal loging atau pembalakan hutan.

Wayan Martino memotret penambangan ilegal di tebing sempadan sungai di Gianyar, Bali yang menyuplai bahan baku untuk arsitektur tradisional seperti rumah, villa, patung, dan tugu persembahyangan. Foto : Luh De Suriyani

Wayan Martino memotret penambangan ilegal di tebing sempadan sungai di Gianyar, Bali yang menyuplai bahan baku untuk arsitektur tradisional seperti rumah, villa, patung, dan tugu persembahyangan. Foto : Luh De Suriyani

Demikian juga patung paras berbentuk figur dewa air atau kesuburan ini. Ia memperlihatkan lanskap sungai dengan kanan kirinya yang rimbun menghijau kemudian tebingnya nyaris habis dipotong.

Para tukang gergaji paras ini terlihat suntuk menghasilkan potongan-potongan batu yang akan diukir menjadi ragam bentuk. Tak hanya ukiran batu padas juga tugu-tugu persembahan tempat persembahyangan di rumah atau pura besar.

Mesin gergaji batu padas membuat pola-pola berbentuk persegi panjang sehingga menjadi bilah yang siap diambil dan dijual. Martino dengan detail memotret kondisi pekerjanya yang berisiko bekerja di tebing dan alat tajam, penuh peluh, pakaian selalu basah, kotor dan polusi dari debu gergaji. Juga ada sisa-sisa tambang yang menutup aliran sungai.

Foto ini diletakkan berhadapan dengan umat Hindu yang sedang bersembahyang khusyuk menyembah dan mendoakan penguasa alam. Juga agungnya patung Dewa Wisnu dengan pancuran airnya. Dua buah dunia yang berkebalikan, satunya berisiko merusak alam dan sisi lain memuja semesta melalui simbol dewa kesuburan dan persembahyangan. “Apakah pemujanya tahu atau mau tahu kalau alat pemujaan dari penambangan seperti ini?” tanya Martino.

Dalam pengantar esai fotonya, Martino berusaha memberi perspektif sosial untuk melihat dilema para penambang liar ini. Misalnya ia mengisahkan Wayan Duduk, penambang dari kabupaten Karangasem, Bali. Ia menyebut majikannya tak mendapat izin menambang namun kegiatan ini tak jua dikontrol. Wayan Duduk menambang di sungai karena menganggap lebih baik ketimbang jual arak. Ia juga mengaku pernah ditangkap karena mencuri.

Esai foto berjudul Paras Dewa Air ini salah satu karya dari lima esai foto dalam rangkaian Denpasar Film Festival (DFF) 2016 yang mengambil topik air dan kehidupan. Kisah air lainnya yang terpilih dan dikurasi oleh sejumlah fotografer muda dalam Bali Photo Forum adalah karya dari Pande Parwata, Wayan Parwana, Wirasathya Darmaja, dan Dodik Cahyendra.

Transisi dari Wirasathya adalah tentang perubahan fungsi air di pesisir Selatan Bali. Lokasinya adalah Pantai Pandawa, obyek wisata yang makin dipersolek oleh pengelolanya. Dari bongkahan bebukitan kapur menjadi vila-vila dan fasilitas wisata lainnya. Pemandangaannya adalah samudra Hindia yang arus dan ombaknya cukup keras menerjang.

Jejak petani rumput laut makin berkurang karena tata ruang sudah berubah. Dari ladang rumput laut menjadi keramaian wisata air. Lalu lintas manusia dan limbah membuat rumput laut lambat laun tak bertahan, dan panen jauh menurun. Salah satunya dirasakan Yasa, salah seorang petani yang kini beralih menjadi penjaja kano. Wirasathya menyebut ada tiga kelompok penjaja kano dengan 19 orang yang melayani sewa kano seharga Rp50.000 per jam. Sementara jika terus jadi petani rumput laut, penghasilan terus menurun dan baru panen 2-3 bulan sekali.

Wirasthya juga merekam bagaimana laut bisa diubah bentangnya untuk mengamankan usaha wisata. Misalnya potret Pantai Pandawa dari kejauhan dengan mengalihfungsikan pesisir jadi parkir bus-bus besar untuk para pelancong. Perubahan kebijakan pesisir dengan cepat mengubah peradaban warga sekitarnya.

Foto berjudul Jika Tak Air adalah perspektif Dodik Cahyendra tentang pentingnya elemen air dalam tubuh manusia. Foto : Luh De Suriyani

Sementara air dan kehidupan direkam secara personal oleh Dodik Cahyendra. Ia mengamati enam orang teman dan keluarganya yang sengaja kurang minum untuk melihat perubahan yang terjadi secara psikis maupun fisik. Memperlihatkab bagaimana tergantungnya manusia dan tubuhnya pada air karena sekitar 70% penopang tubuh adalah cairan.

Dodik memotret serial foto closeup hitam putih kulit bibir mengelupas, kering, kulit keriput, sakit pinggang, dan mata sayu. “Menjaga sumber air tak hanya menjaga alam tapi juga tubuh dan kesehatan,” catatnya.

Dalam keyakinan Hindu di Bali, ada konsepsi Panca Maha Bhuta yakni lima unsur alam. Misalnya Unsur-unsur di Bhuana Alit (lingkungan terkecil, diri sendiri) adalah Pertiwi diibaratkan tulang dan daging, Apah adalah darah, air dalam tubuh. Kemudian Teja berupa panas badan, Bayu adalah nafas, dan Akasa berupa rongga dada dan mulut.

Sementara di Bhuana Agung (lingkungan sekitar dan semesta), Pertiwi berupa tanah, batu, pasir dan zat padat lain, Apah zat cair seperti air sungai, air danau air tawar, dan sebagainya. Teja adalah sinar matahari, Bayu berupa gas, angin, dan Akasa ether.

Demikian para leluhur dan intelektual masa lalu mengingatkan jika alam rusak, manusia dan mahluk hidup lainnya terdampak langsung. Seperti esai foto berjudul Titik Nol karya Wayan Parmana. Sebuah kesadaran ketika manusia menikmati alam apa adanya. Anak-anak yang bermain di pancuran, melompat dari tebing air terjun, dan matahari terbenam di kaki langit dan laut.


Connect & Share
  • YouTube - Black Circle
  • Google+ - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • Facebook - Black Circle
  • Black YouTube Icon
  • Black Google+ Icon
  • Black Instagram Icon