Other Videos

Diduga Penyebab Keringnya Hektaran Lahan : Penggali Batu Padas Ditangkap

Buntut longsornya terowongan irigasi hingga mengakibatkan 1.000 hektare lahan kekeringan, aktivitas penambangan galian C liar atau ilegal terus menjadi sasaran operasi jajaran Reskrim Polres Gianyar. Setelah menetapkan seorang tersangka dalam operasi sebelumnya, Jumat (30/10) dua orang penggali liar juga diamankan.

Maraknya aktivitas penambangan galian C liar di pinggiran sungai, membuat Satuan Rekrim Polres Gianyar mengintensifkan operasi dalam sepekan terakhir. Selain ilegal, aktivitas galian ini juga memicu jebolnya tanggul irigasi dan terowongan, mengakibatkan lahan persawahan seluas 1.000 hektare mengalami kekeringan. Meskipun sudah beberapa kali diperingatkan dan dilakukan penertiban oleh petugas, namun di wilayah Gianyar masih banyak para penambang yang melakukan aktivitas secara sembunyi-sembunyi.

Masih banyaknya penambang liar galian C tetap melakukan aktivitas, Jumat (30/10), Unit IV Sat Reskrim Polres Gianyar, kembali melaksanaka

n giat operasi penampangan liar. Kali ini lokasi yang menjadi sasarannya adalah di aliran Sungai Wos, di Desa Kedewatan. “Di lokasi ini sedikitnya kami menemukan tujuh titik galian liar. Namun baru berhasil mengamankan dua orang yang sedang tertangkap tangan,“ ungkap Kanit IV Reskrim Polres Gianyar Ipda AA Alit Sudarma.

Lebih lanjut dia menyampaikan, dalam razia ini pihaknya langsung mengamankan dua orang I Wayan Tana (35), dan I Wayan Bukel, asal Banjar Bangkiang Sidem, Keliki, Tegalalang. Selain itu, pihaknya juga menyita barang bukti berupa 1 unit mesin untuk memotong batu, sejumlah peralatan gali serta batu padas. “Dalam sehari kami hanya dapat 15 hingga 20 batang batu padas, dengan ongkos rata-rata seratus ribu ripiah per hari,” ungkap Tana.

Sementara Kapolres Gianyar AKBP Farman menyebutkan, pihaknya akan terus melakukan penindakan terhadap galian C liar. Sebab, tidak hanya merusak lingkungan, juga telah mengakibatkan kekeringan pada lahan pertanian. Belum lagi potensi bencana alam, yang kerap terjadi di musim penghujan.

Mengenai aspek ekonomi terhadap penertiban itu, Farman mengaku sudah berkoordinasi dengan Bupati Gianyar AA Gde Agung Bharata. Pada intinya, kata dia, bupati dan unsur pimpinan daerah mendukung penertiban itu. Kalaupun nantinya ada masyarakat yang kehilangan pekerjaan, pemerintah siap mengakomodasi keahliannya ke pekerjaan lain. “Bupati sudah menyiapkan pendampingan dengan beberapa program untuk menampung buruh galian yang kehilangan pekerjaan,” pungkas Farman.

Sebelumnya, hampir seribu hektare lahan di tujuh desa Kecamatan Blahbatuh mengalami kekeringan. Ini karena tersumbatnya terowongan irigasi setelah tertimbun longsor galian liar. Akibatnya, petani menderita kerugian mencapai miliaran rupiah. Akibatnya, padi yang sudah berumur 65 hari yang sudah memasuki musim panen, kini ditelantarkan. Rumput pun bertumbuhan dan meninggi di sela-sela padi.


Connect & Share
  • YouTube - Black Circle
  • Google+ - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • Facebook - Black Circle
  • Black YouTube Icon
  • Black Google+ Icon
  • Black Instagram Icon