Other Videos

Suara Mayadenawa Menggema di Sepanjang Sungai Petanu

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Eri Gunarta

Keberadaan Tukad Petanu, Gianyar, berkaitan dengan Mayadenawa yang merupakan raksasa sangat sakti. Namun ia keji dan lalim, menyebabkan rakyat menderita. MAYADENAWA merupakan raja yang memerintah di Bedahulu Bali. Ia merupakan putra raja Jayapangus dan Dewi Danu.

Saat memerintah di Bedahulu, ia didampingi oleh Patih Kala Wong. Pada awal pemerintahan Mayadenawa, pusat pemerintahan masih di Dalem Balingkah, Kintamani Bangli. Namun ini tak berlangsung lama karena ketamakan Mayadenawa. Ia menyerang ke berbagai daerah di Bali, rakyat yang berada di daerah kekuasaannya tak diijinkan menyembah Tuhan. "Sebab ia berpendapat, tak ada yang lebih kuasa, kuat dan berpengaruh selain dirinya. Oleh karena itu, tak ada gunanya menghaturkan sajian kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa," urai seorang warga Banjar Laplapan, yang berprofesi sebagai dosen di Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN), I Wayan Gede Eka Dharma Putra. Para dewa sangat risau dengan kepemimpinan Mayadenawa. Para dewa di Tohlangkir menghadap Hyang Pramesti Guru, memohon supaya Mayadenawa dimusnahkan.

Hyang Pramesti Guru memerintahkan Bhatara Indra dan pasukannya untuk turun ke bumi.

"Setelah tiba di bumi, terjadi peperangan yang amat dahsyat. Bala tentara Mayadenawa terdesak. Mayadenawa dan Patih Kala Wong melarikan diri," ujar Eka. Dalam pelarian tersebut dia berlari dengan telapak kaki miring, dan daerah tempatnya berlari dengan posisi itu, sekarang disebut dengan Tampaksiring. Ketika Mayadenawa melihat pasukan Bhatara Indra tengah kehausan, ia menciptakan mata air beracun. "Para prajurit tanpa sadar meminumnya, akhirnya meninggal," urai Eka.

Mengetahui pasukannya tewas, Bhatara Indra menancapkan panah saktinya ke tanah, maka muncullah air suci, lalu diberikan pada pasukan yang telah tewas. Berkat air tersebut, pasukan Bhatara Indra hidup kembali. "Saat ini, mata air tersebut menjadi Tirta Empul, tempat umat Hindu menyucikan diri, baik rohani dan jasmani," katanya. Bhatara Indra melakukan pengejaran tanpa henti, hingga berada di sebelah utara Tampaksiring. Bhatara Indra pun dapat memenggal kepala Mayadenawa dan darahnya muncrat ke sungai.

Di lokasi meninggalnya Mayadenawa terdapat Pura Pagulingan. Karena kesaktiannya, walau jasadnya telah mati, namun suaranya masih menggema di sepanjang sungai. Sungai tersebut kemudian dinamai petanu.

Secara etimologis, peta artinya suara dan nu artinya masih. Karena itu sampai saat ini sungai tersebut dikenal dengan nama sungai Petanu. Hulu sungai Petanu disebut tanah pegat (tanah putus). Sebab, saat mengejar Mayadenawa, Bhatara Indra sempat melepaskan panahnya. Namun meleset dan menancap di tanah.

Tancapan panah Bhatara Indra tersebutlah yang dinamakan tanah pegat. Hingga sekarang di sana masih terdapat situsnya. Selama 1.000 tahun lamanya, setiap petani yang akan memanen padi di sawah yang sumber airnya berasal dari Sungai Petanu, potongan padi mengeluarkan cairan berwarna merah yang diyaniki masyarakat sebagai darah Mayadenawa.


Connect & Share
  • YouTube - Black Circle
  • Google+ - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • Facebook - Black Circle
  • Black YouTube Icon
  • Black Google+ Icon
  • Black Instagram Icon